Google+ Followers

Google Plus

Catatan Tersisa dari Kongres I Bahasa Madura

Kongres I Bahasa Madura yang digelar di Pamekasan mulai tanggal 15 hingga 19 Desember 2008, tidak hanya menyusun kamus dan ejaan Bahasa Madura yang disempurnakan. Lebih dari itu, peserta juga membahas hal-hal lain yang menyebabkan Bahasa Madura cenderung kurang diminati, baik oleh kalangan pemuda ataupun para orang tua.

Akhmad Sofyan, dari Fakultas Sastra Universitas Jember (Unej) menyatakan, alasan lain yang menyebabkan orang Madura enggan menggunakan bahasanya sendiri, karena mereka merasa malu menggunakan Bahasa Madura. Sangat jarang Bahasa Madura digunakan di ruang publik, layaknya Bahasa Jawa.

"Sebagai bahasa daerah, seharusnya Bahasa Madura mempunyai tiga fungsi, yakni sebagai lambang kebanggaan daerah, lambang identitas daerah dan alat perhubungan di dalam keluarga dan masyarakat daerah," katanya.

Selama ini, lanjut penulis buku 'Tatabahasa Bahasa Madura' ini, ketiga fungsi tersebut sudah jarang ditemukan. Bahasa Madura hanya cenderung menjadi alat komunikasi di ranah domestik, dalam keluarga dan sesama tetangga.

Kendatipun demikian, di ranah domestikpun Bahasa Madura juga jarang dipraktekkan. Para orang tua, katanya, lebih memilih menggunakan Bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari, bukan dengan Bahasa Madura.

Sebagian gambar dari sesi kongres I Bahasa Madura







Tentang Kongres I Bahasa Madura :

 


Petilasan Arya Wiraraja Di Situs Biting

Jalan menuju petilasan
Dalam sejarah Sumenep disebutkan, Prabu Kertanegara yang memerintahkan Singasari (Lumajang Jawa Timur) melakukan perubahan besar-besaran dalam menjalankan pemerintahan. 

Namun demikian banyak hal kebijakan yang ditentang Arya Wiraraja yang saat itu memangku pejabatan atau demung yang dekat dengan Raja Kertanegara, suatu ketika memiliki pendapat yang berbeda dengan raja, sehingga demung Arya Wiraraja tidak disukai, sehingga akhirnya “dibuang” ke Madura Timur (Sumenep). Namun dalam buku sejarah Sumenep tidak diceritakan dimana akhirnya Arya Wiraraja wafat dan dimakamkan.

Inilah petilasan gambar-gambar Arya Wiraraja yng terletak dilokasi Situs Biting, terletak di Dusun Biting, Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur:





Link terkait: 





Pantai Rongkang Bangkalan Madura

Keindahan alam pantai di Pulau Madura memang tidak diragukan lagi. Salah satunya, yaitu keindahan Pantai Rongkang yang terletak di Desa Kwanyar, Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan, Madura.

Untuk mencapau pantai ini tidaklah sulit, dari Kota Surabaya, kemudian melintas melalui Jembatan Suramadu, setelah itu akan tampak arah penujuk ke arah Kwanyar. Nah, dari baypas Suramadura, bagian Madura itulah yang mengantar kearah pantai Rongkang.

Pantai Rongkang memiliki keunikan tersendiri yaitu pantai masih alami, pohon-pohonnya yang rindang dan bebatuan besar yang berongga bertebangan di pantai. Dengan semua keunikan yang ada, membuat pantai ini beda dengan pantai-pantai lainnya.

Pantai Rongkang Bangkalan Pantai Rongkang Bangkalan Pantai Rongkang Bangkalan Pantai Rongkang Bangkalan Pantai Rongkang Bangkalan Pantai Rongkang Bangkalan

foto dari beberapa sumber

Selengkapnya tentang Pantang Rongkang lihat disini:





Pergelaran Peringatan Hari Jadi Sumenep ke 745 - 2014

Beberapa waktu lalau, tepatnya tanggal 31 Oktober 2014 dilaksanakan pergelaran Prosesi Hari Jadi Sumenep ke 745, dan Pergelaran Sendra Tari “Mutiara Tiga Jaman” di Sumenep, Madura, Jawa Timur. 

Seperti peristiwa tahun sebelumnya, prosesi hari jadi Sumenep tahun itu nampak tidak ada perbedaan, sebuah pertunjukan proses penobatan Arya Wiraraja sebagai Adipati Sumenep, dan pergelaran tari sebagai bagian eksplorasi dalam prosesi. Dibawah foto-foto yang menggambarkan peristiwa masa lalu, dengan melibatkan ratusan pelaku: