Bujuk Tamone merupakan salah satu situs budaya dan religi yang berada di Desa Batuan, Kecamatan Batuan, Kabupaten Sumenep, Madura. Tempat ini dikenal luas sebagai lokasi ziarah bagi pasangan suami istri yang berharap memperoleh keturunan. Tradisi unik menggantung ari-ari bayi di pohon besar dekat makam menjadi ciri khas yang masih bertahan hingga sekarang. Di balik ritual tersebut tersimpan kisah sejarah, kepercayaan masyarakat, serta nilai syukur dan penghormatan terhadap leluhur.

*****


Di tengah masyarakat Madura, tradisi dan kepercayaan leluhur masih hidup berdampingan dengan kehidupan religius masyarakat. Salah satu tradisi yang paling dikenal di Kabupaten Sumenep adalah keberadaan Bujuk Tamone atau Asta Paregi yang terletak di Desa Batuan, Kecamatan Batuan. Tempat ini bukan hanya dikenal sebagai makam keramat, tetapi juga sebagai simbol harapan bagi pasangan suami istri yang belum memiliki keturunan.


Nama “Bujuk Tamone” berasal dari bahasa Madura. Kata “bujuk” berarti makam keramat atau makam orang yang dihormati, sedangkan “tamone” berarti ari-ari bayi. Oleh sebab itu, masyarakat mengenalnya sebagai tempat menggantung ari-ari bayi di sekitar makam yang berada di bawah pohon besar, seperti pohon kesambi dan asam. Tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun dan masih dijaga hingga sekarang.

Menurut cerita masyarakat setempat, awal mula tradisi ini bermula dari pasangan suami istri yang lama tidak dikaruniai anak. Mereka datang berziarah ke Asta Paregi untuk berdoa dan bernazar. Jika kelak memperoleh keturunan, mereka berjanji akan membawa ari-ari bayi mereka ke tempat tersebut. Setelah doa mereka terkabul dan lahir seorang anak, pasangan itu memenuhi nazarnya dengan menggantung ari-ari bayi di pohon dekat makam. Sejak saat itu, banyak masyarakat mengikuti tradisi tersebut sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan.

Ada pula kisah lain yang berkembang di masyarakat tentang tokoh bernama Sayyid Usman dan Siti Fatimah yang dimakamkan di lokasi tersebut. Konon, keduanya meninggal secara tragis dan kemudian dianggap sebagai sosok yang dimuliakan masyarakat setempat. Cerita inilah yang kemudian memperkuat keyakinan masyarakat terhadap kesakralan Bujuk Tamone.

Tradisi menggantung ari-ari di pohon besar sebenarnya memiliki makna simbolis yang mendalam. Ari-ari dianggap sebagai bagian dari bayi yang harus diperlakukan dengan hormat. Dalam pandangan masyarakat Madura, menggantung ari-ari di tempat tinggi melambangkan harapan agar anak kelak tumbuh menjadi pribadi yang baik, terhormat, dan dijauhkan dari mara bahaya. Selain itu, ritual tersebut juga menjadi bentuk syukur atas anugerah keturunan yang telah diberikan Allah SWT.


Masyarakat sekitar Batuan masih memberi perhatian besar terhadap keberadaan Bujuk Tamone. Hampir setiap hari terdapat peziarah yang datang, tidak hanya dari Madura, tetapi juga dari berbagai daerah di Jawa Timur. Mereka biasanya membaca doa, tawasul, dan memohon keberkahan. Setelah memperoleh anak, mereka kembali datang sambil membawa ari-ari bayi sebagai bentuk pemenuhan nazar.

Keberadaan pohon besar yang dipenuhi gantungan ari-ari menjadi pemandangan yang unik sekaligus sakral. Meski terlihat mistis bagi sebagian orang, masyarakat setempat memaknainya sebagai warisan budaya leluhur yang harus dihormati. Tradisi ini juga memperlihatkan bagaimana budaya lokal Madura memadukan unsur adat, spiritualitas, dan nilai religius dalam kehidupan sehari-hari. Hingga kini, Bujuk Tamone tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Batuan dan Kabupaten Sumenep.